Silaturahim = Modal Sosial

Kalau pada tulisan kemarin saya menceritakan pertemuan saya dengan teman kost, dan dipertemukan kembali dengan manfaat Internet, nah pada hari berikutnya, saya juga memanfaatkan saat di jogja untuk ketemu teman alumni SMAN Gombong tahun 86 yang saat ini di Yogyakarta. Ini semuanya sebenarnya upaya untuk merajut silaturahim.

Sebelum cerita tentang pertemuan dgn teman SMAGO86 saya ingin mengutip tulisan tentang silaturahim = kebersamaan, karena saya ingin semua upaya diatas bisa mendapatkan Silaturahim yg punya nilai Plus, berikut ini kutipan dari majalah Al Falah :

Silaturahim, kalau dari asal katanya adalah hubungan kasih sayang dan menghormati, “Sekarang ini seringnya terbalik, silaturahim lebih menonjol hubungan kontraktualnya, ketimbang rasa kasih sayang dan rasa saling menghormatinya. Mestinya yang lebih utama dalam silaturahim adalah membina hubungan lahir batin. Keuntungan ekonomi atau lainnya yang bersifat jangka pendek pasti akan mengikuti secara otomatis. Sebenarnya, masyarakat modern saat ini sudah mulai menyadari pentingnya pola hubungan silaturahim ini. Dalam dunia manajemen, silaturahim dimaknai sinergi, kolaborasi atau juga networking. Sehingga, kinerja suatu kelompok atau individu akan semakin baik dan dan optimal melalui silaturahim. Jadi harus working hard together agar sukses” kata Prof. Zainudiin Maliki, Ketua Madrasah Development Center.

Lanjutnya “Jangan masuk surga sendirian. Di Surat Altahrim Ayat 6 Allah berpesan agar kita menjaga diri kita dan keluarga (ahli) dari neraka. Ahli biasa bermakna luas seperti sanak keluarga, teman, rekan kerja, tetangga, masyarakat yang lebih luas lagi. Persoalannya, masyarakat modern lebih sering habis waktunya untuk diri sendiri. Bisa karena pekerjaan atau rutinitas lainnya. Sehingga tidak ada waktu untuk membina hubungan sosial atau yang disebut oleh Francis Fukuyama disebut modal sosial (social capital). Modal sosial ini berarti teman yang banyak, tetangga yang baik atau jaringan yang luas.

Orang sekarang sering memulai hubungan dengan ucapan saya dapat apa. Orang yang menggunakan pola pikir seperti ini tidak punya modal sosial. Ungkap penulis berbagai buku masalah sosial tersebut. Beliau juga memberi tips, untuk kita. “Bekali anak dengan kemampuan silaturahim dan keterampilan Teknologi Informasi.. Sehingga wawasan jadi terbuka dan jaringan pun meluas. Ajari mereka kecerdasan berbahasa dan kasih sayang. Sehingga silaturahim pun terbina dengan baik”.

Karena dengan bertambahnya aktivitas ditambah makin sulitnya bertatap muka (kesibukan dan jarak), silaturahim harus disiasati sedemikian rupa. “Mungkin tidak selalu face-to-face. Sekedar say hello lewat telepon, sms, ataupun chatting jadi alternatif jika jarak dan waktu jadi kendala,” pungkas Prof. Zainuddin.

Berikut ini foto-foto saat saya bertemu kembali dengan teman2 SMAGO’86 di rumah jeng Atik, Indah dan Lilies di Yogya. Hadir saat itu, Jeng Atik dan Suami, Binti dan putranya, Indah Sudarti dan family, Sudaryono, Primono, Sariyanto, Lilies dan Family, serta saya sorangan wae.

Gendu-gendu rasa tersebut tentu mengasyikkan, bisa ke 3 rumah teman smago86, dan banyak cerita lucu sebenarrnya. Nanti saya tulis berikutnya,karena cerita lucu ini juga gara-gara belum adanya silaturahim.

Leave a comment

Filed under dibuang sayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s