Bentor Gorontalo

Alhamdulillah tiba juga di Bandara Djalaluddin – Gorontalo, setelah penerbangan dari Surabaya sempat delay lebih dari 1 jam, sehingga ketika transit di Bandara Hasanudin Makassar pun hampir tidak masuk ke Bandara, keluar pesawat – lapor – dan langsung naik pesawat Sriwijaya menuju Gorontalo. Berangkat dari Surabaya jam 13.30 WIB tiba di Gorontalo jam 17.30 WITA. Suasana sore yang cerah di Bandara Djalaluddin masih sempat melihat panorama pohon kelapa di sekeliling bandara, dan terlihat sepi tidak ada pesawat lain. Penerbangan dari dan ke Gorontalo memang masih terbatas, menurut info hanya ada 3 maskapai yg melayani penerbangan dari dan ke Gorontalo: Sriwijaya, Lion Air dan Batavia.

Saya dijemput teman lama –Pak Arbyn sama-sama mantan Pendamping ICT Depdiknas, sebenarnya dari Bandara menuju kota Gorontalo ada taxi (kurang lebih Rp.50 rb), namun Pak Arbyn yang sempat kontak beberapa hari sebelumnya menawarkan untuk menjemput. Perjalanan menuju Gorontalo melintasi jalan yang cukup lebar, dan suasana pedesaan yang rapi, sebagai Provinsi muda di Sulawesi bagian utara ini Gorontalo dikenal sebagai Kota Agropolitan penghasil kopra. Saya mulai melihat banyak kendaraan khas Gorontalo yaitu Bentor (Becak Motor), meski bentor juga ada di kota lain seperti medan dll, tapi Bentor disini merupakan produk lokal, Becaknya cukup khas dengan jok yang nyaman untuk 2 orang, dilengkapi penutup di bagian depan, kalau bentor di kota lain, sopir ada di samping becak, tetapi Bentor gorontalo ada di belakang, dan sebagai motor adalah motor dalam arti sebenarnya, bukan sepeda dengan mesin tempel, tetapi motor yang “kepala”nya diganti becak.

Perjalanan hampir 40 menit ke Kota Gorontalo selalu berpapasan dengan bentor, ya.. bentor ada di mana-mana, harus mencoba nih….. Tiba di Hotel Mega Zanur jam 18.10, sebuah hotel yang berada di pusat kota Gorontalo, di sekitarnya adalah pertokoan serta pusat bisnis.

Esok pagi, alhamdulillah kondisi sudah fresh, kami siap-siap ke Dinas Dikpora yang katanya berjarak 3-4 Km. Saatnya mencoba bentor…, kami menyetop Bentor di depan Hotel, ketika saya sebutkan tujuan kami sopir cukup paham dengan menyebut jalan Pangeran Hidayat II, berapa pak? “Lima ribu saja..” wow murah juga.. masa perlu di tawar?? Bayangan saya, lebih dari itu, apa lagi harga2 di sini kan lebih dari di Jawa, ternyata memang seperti itulah jasa Bentor di sini, mulai 2.500 katanya per kepala, karena kami ber-2 jadi 5 ribu. Asik juga naik bentor, lajunya lebih kencang dari becak biasa.. ya iyalah.. lha pakai motor berbahan bakar bensin.. bukan nasi!! Tapi kalau ngebut pasti bikin sport jantunga juga.. apalagi posisi becak di depan, sebagai penumpang pasti takut juga kalau kecepatan tinggi dengan posisi depan.. sopir di belakang sih tenang aja.

Tiba di Dikpora, para staf terlihat baru mulai berdatangan, kami disambut seorang staf yg ternyata sudah memperhatikan kami ketika naik bentor dan berpapasan di jalan menuju Dikpora, dia sudah menduga pasti dari jauh… pagi-pagi bukan staf tapi naik bentor. Beliau menyambut kami dengan ramah dan mendampingi sambil menunjukan siapa-siapa yang datang. Ketika datang Kabid Dikmenti yaitu Pak Rahman, langsung dikenalkan, beberapa saat kemudian datang Kepala Dinas, dan langsung disampaikan kedatangan kami, sehingga langsung diterima, bahkan disampaikan bahwa kami datang naik Bentor (hehe.. mungkin biasanya ada yang mengantar atau dijemput pakai mobil). Kami masuk ke ruangan Kadis Dikpora, didampingi pak Rahman, kami menyampaikan maksud kedatangan serta tugas hari ini di Gorontalo, dan beliau menyambut dengan baik serta memfasilitasi tugas hari ini. Dalam perbincangan, saya juga jadi tahu kalau Bentor, mulai ada di Gorontalo sekitar tahun 2000-an, prototipenya dibuat oleh siswa SMK, kemudian dikembangkan oleh bengkel2 di Gorontalo, bahkan karena kualitasnya yang bagus di “ekspor” ke kota lain bahkan luar pulau. Di Gorontalo sendiri sebanarnya bentor tidak mendapat “restu” dari Dishub karena masalah keamanan, bisa dimaklumi sih, karena kecepatan tinggi tetapi penumpang tidak ber-helm. Tetapi gimana lagi, bentor bisa dikatakan kendaraan yang mempunyai “kearifan lokal” hehe.. ya.. karena jarak antar tempat di Gorontalo cukup berjauhan, kalau pakai becak biasa tentunya tidak manusiawi, kalaupun pakai delman, tidak lebih cepat, dan satu lagi.. murah… jadinya becak biasa pernah di gorontalo, tidak berkembang, dan yang menjamur adalah Bentor.

Setelah dari Dikpora, kami melanjutkan tugas ke LPMP Gorontalo, di Bone Bolango, berjarakan kurang lebih 16 Km, wah ini asik juga kalau naik bentor, bisa menikmati perjalanan.. tetapi Kadis Dikpora keburu memfasilitasi kendaraan pengantaran. Ya udah, kami diantar mobil Dikpora ke LPMP, didampingi Pak Udin. Dalam perjalanan kami juga sembat ngobrol lagi tentang bentor, kenapa ini menjamur?? Karena memang mudah untuk mendapatkan, apalagi fasilitas kredit sepeda motor sangat mudah, bermodal KTP, dan sepakat untuk nyicil tiap bulan, maka sepeda motor didapat, tinggal membeli “kepala bentor” yang harganya 3 jutaan, maka siaplah menjadi penjual jasa transportasi bentor, dimana dari hasil ngompreng bisa nyicil angsuran motor. Menjamurnya bentor tentu menguntungkan pengguna jasa alias penumpang, harga jasa bentor menjadi murah, serta kalau diperlukan bentor siap mengantar untuk jarak jauh.. bahkan sampai 200 Km (jarak kota kabupaten terjauh dari Gorontalo).. wuih.. berapa jam ya ditempuhnya?? Kalau dapat sopir yang enak mengemudikannya.. maka bisa sambil tiduran.., tapi kalau dapat sopir yang suka ngebut… ya selamat ber-sport jantung!!!

Sore hari hujan mengguyur Gorontalo, menjelang Isya baru reda, waktu yang pas untuk cari makan malam, hawa dingin habis hujan enaknya cari sop panas, coba jalan di sekeliling hotel kami menemukan Depot Sop Bersaudara.. wah ini khas Sulawesi Selatan, dan salah satu menu khas adalah Sop Konro, sop dengan tulang iga. Jadi ingat pertama kali ke Kendari – Sulawesi Tenggara 17 tahun silam, di sana pertama kali mencipi kuliner Sulsel yg khas diantaranya Sop Konro & Coto Makassar.

Leave a comment

Filed under akti-vitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s